For the Girls Who Are Mentally Tired from Being Online

SheUnity Network Team

Published 26 May 2026

For the Girls Who Are Mentally Tired from Being Online

Being a woman in this digital era is… a lot.

Buka social media dikit, ngeliat orang lain pada produktif, glowing, travelling, punya perfect relationship, perfect body, perfect life.

Dan tanpa kita sadari, kepala kita jadi nggak pernah benar-benar dapat waktu buat istirahat.

Kadang kita pikir scrolling itu relaxing. Padahal setelahnya malah ngerasa empty, overwhelmed, atau tiba-tiba jadi insecure sendiri. It’s like we’re constantly consuming everyone else’s lives, sampai lupa connect sama hidup kita sendiri.

The Overstimulation We Don’t Talk About Enough

Sumber: pexels.com

Kadang rasanya kita dituntut buat bisa keep up with everything at the same time. Harus cantik, produktif, independen, percaya diri, tapi juga gak boleh berlebihan. Dan jujur aja, media sosial bikin tekanan itu terasa makin besar.

Setiap beberapa detik selalu ada hal baru buat dilihat. Video baru, tren baru, beauty standard baru, lifestyle baru. Otak terus dipenuhi terlalu banyak informasi dan stimulasi setiap hari, sampai tanpa sadar kita jadi mentally exhausted.

Kadang badan kita lagi rebahan atau lagi nggak ngapa-ngapain, tapi pikiran tetap terasa capek. Karena, mentally we never really stop consuming.

When Comparison Culture Hits Hard

Sumber: pexels.com

It could be very draining menjadi perempuan di era media sosial. Tanpa sadar, kita jadi sering membandingkan diri sendiri sama orang lain yang sebenarnya bahkan nggak kita kenal.

Kita ngebandingin looks, body, relationship, career, bahkan personality. Padahal yang kita lihat di media sosial kebanyakan cuma bagian terbaik dari hidup mereka, jadi semuanya terasa lebih sempurna dibanding hidup kita sendiri.

Kadang, media sosial bikin kita merasa kalau hidup orang lain jauh lebih indah. Mereka kelihatan lebih cantik, lebih bahagia, lebih sukses, dan seperti punya hidup yang sempurna. Lama-lama, muncul pertanyaan kecil yang terus berputar di kepala:

“Aku udah cukup belum sih?”
“Kok orang orang pada sukses bgt ya?”
“Aku tu ketinggalan gak sih?”

Padahal hidup bukan perlombaan, dan internet bukan representasi penuh dari kehidupan seseorang.

So How Do We Protect Our Peace?

Salah satu hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah mulai jadi selektif dengan apa yang kita konsumsi. Nggak semua konten pantas mendapat akses ke pikiran dan energi kita setiap hari. It’s okay banget untuk unfollow atau mute hal-hal yang bikin kita insecure, anxious, atau mentally tired.

Atau, coba deh pergi keluar sebentar, journaling, minum kopi tanpa scrolling, atau sekadar mendengarkan lagu tanpa membuka aplikasi lain. Small moments like that can help us feel connected to ourselves again.

Dan mungkin yang paling penting untuk diingat: online validation will never be worth your peace. Hidup yang terlihat aesthetic di internet belum tentu benar-benar tenang di kehidupan nyata.

At the end of the day, social media memang bisa jadi tempat untuk mencari hiburan dan inspirasi. Tapi kalau pelan-pelan mulai terasa “too much”, melelahkan, dan bikin kita kehilangan diri sendiri, mungkin itu tanda kalau kita butuh sedikit jarak.

Nggak harus langsung menghilang total, tapi mulai mengurangi waktu scrolling, lebih mindful dengan apa yang kita konsumsi, dan memberi diri sendiri ruang untuk benar-benar istirahat juga penting. Karena hidup kita sebenarnya jauh lebih luas daripada apa yang ada di layar.

Sometimes, less social media really does mean more peace of mind.


Read More

Be Part of SheUnity Network

Step into a community of women who support each other to live, lead, and grow with harmony and purpose.